Ambunten Barat, Data dan Realita


Madura merupakan sebuah pulau besar yang terletak bersebelahan dengan Pulau Jawa. Keberadaan pulau Madura berbatasan langsung dengan Pulau Jawa melalui kota Bangkalan (Ujung Barat pulau madura) dan Surabaya yang dibatasi oleh lautan. Madura dibagi menjadi empat Kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sebagai sebuah wilayah kepulauan, Madura dikelilingi oleh daerah perlautan yang membentang kesegala penjuru. Salah satu kota yang disanjung atas keelokan laut dan juga wisatanya adalah Sumenep.

Sumenep menjadi salah satu kota di Madura yang menjadi sorotan wisatawan melalui berbagai wisata yang ditawarkan. Kota di ujung Timur Pulau Madura ini memiliki potensi keindahan pantai yang telah dikembangkan menjadi destinasi wisata oleh pemberdaya wisata kota. Disamping kekayaan alam yang dimilikinya, terdapat kehidupan masyarakat lokal yang perlu diselami hingga dapat benar-benar menyatu dengan alam. Salah satu Kecamatan yang menjadi objek pembahasan kali ini adalah Kecamatan Ambunten.


Menyusuri lebih dalam hingga tiba di spesifik desa tempat KKN Kelompok 94 Universitas Trunojoyo Madura yaitu desa Ambunten Barat. Desa Ambunten Barat merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ambunten. Desa Ambunten Barat sendiri terdiri dari 4 Dusun dengan 8 RW dan 23 RT. Menurut catatan dari kantor Statistik Kecamatan Ambunten Barat, jumlah penduduk Desa Ambunten Barat pada tahun 2009 terdiri dari 3.406 kepala keluarga yang terdiri dari laki-laki sebanyak 1.526 jiwa (44,15%) dan perempuan sebesar 1.930 jiwa (55,85%). Selain itu, berikut disajikan data tabel mata pencaharian penduduk penduduk di Desa Ambunten Barat:

No
Pekerjaan
Jumlah
1
Petani
1230
2
Perkebunan
52
3
Perikanan
493
4
Peternakan
10
5
Pedagang
25
6
Angkutan
21
7
Jasa/PNS
451
   
Kecamatan Ambunten terletak di Kabupaten Sumenep yang merupakan daerah pesisir utara pulau madura. Terdiri dari 15 desa, salah satunya adalah Desa Ambunten Barat. Desa yang berjarak sekitar 31 kilometer dari jantung kota Sumenep ini memiliki 4 yaitu dusun durbugan, dusun taroh, dusun bajung barat, dusun bajung timur (secara demografi dan administrasi) dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1.120. Penduduk desa Ambunten Barat sebagian besar memiliki mata pencaharian petani. Dalam tingkat pendidikan desa Ambunten Barat terdapat TK Darululum Ambunten Barat (Swasta), SDI Ambunten Barat (Swasta), SMPI Ambunten Barat (Swasta), SDN Ambunten Barat 1, SDN Ambunten Barat 2 dan SDN Ambunten Barat 3.

Menjadi bagian dari Negara Indonesia, memang telah biasa jika pertanian menjadi profesi yang paling tertinggi diduduki sebagai mata pencaharian masyarakat agraris. Meskipun telah dikenal bahwa Madura merupakan pulau yang memiliki tanah gersang dengan pertanian yang mengandalkan tadah hujan dengan keminimalisasian sumber air. Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa penduduk biasa meninggalkan lahan pada waktu musim kemarau (kondisi lahan gersang) dan akan mulai bertanam kembali saat musim penghujan. Namun, di desa Ambunten barat, petani sudah mulai merotasi penanaman dengan menyesuaikan tanaman yang cocok dengan musim tertentu. Saat musim penghujan, petani mulai menanam padi dan saat musim kemarau, petani dapat menanam jagung, kacang tanah dan juga tembakau.

Minimalisasi curah hujan tahunan yang terdapat di daerah Ambunten Barat telah ditanggulangi dengan keberadaan saluran irigasi melalui selang-selang yang digali dari tanah sedalam 7 meter dan dialirkan ke tadah penampung air. Selanjutnya air tersebut digunakan petani untuk mengairi tanaman tembakau dan cabai (yang ditanam di musim kemarau) setiap pagi dan siang mengingat kondisi tanah yang kering. Selain usaha pegairan,petani desa Ambunten Barat juga menggunakan kompos dari kotoran hewan ternak untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman.

Selain pertanian yang menempati kedudukan pertama sebagai mata pencaharian, Desa Ambunten juga telah memiliki berbagai fasilitas pendidikan seperti SD, MI, SMP, MTS, SMA dan juga  SMK. Dengan adanya fasilitas tersebut, pemuda dan anak-anak telah mampu menempuh pendidikan dengan mudahnya. Namun disisi lain, pendidikan pemuda hanya terbatas pada jenjang SMP ataupun SMA, hingga hanya terdapat beberapa orang saja yang melanjutkan pada jenjang Perguruan Tinggi. Rendahnya minat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi ini menjadi masalah yang perlu ditanggulangi guna meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia di Desa Ambunten Barat.

Menyelusuri lebih dalam mengenai desa, letak desa ini terpaut jauh dengan keberadaan pasar. Pasar terletak sekitar 8 km dari desa dan didominasi oleh pedagang sayuran di sepanjang jalan. Keberadaan pasar harian yang berada di jalan yang seharusnya untuk pejalan kaki ini menyebabkan pasar macet di waktu jam 06.30 WIB. kemacetan ini disebabkan karena jalan merupakan jalan utama yang pastinya dilalui oleh pelajar yang berangkat sekolah, mobil angkut dan juga pengendara lain yang akan berangkat bekerja. Pengalokasian pasar ditempat yang strategis mungkin dapat dicanangkan sehingga desa dapat tertata dengan baik.

Seperti penduduk Madura pada umumnya, penduduk di Desa Ambunten Barat terkenal akan keramahannya. Bagi mereka,tamu adalah raja. Penduduk desa akan mengeluarkan makanan apapun yang mereka punya untuk disajikan kepada tamunya. Keramahan tersebut disusul dengan sambutan hangat atas salam yang dilontarkan dari orang dikenal ataupun orang yang belum dikenal. Berada di desa Ambunten Barat menjadikan pengunjung merasa seperti di desa kelahirannya sendiri.

          Menjelang malam, desa Ambunten Barat akan minim penerangan. Disepanjang jalan tidak terdapat penerangan yang membuat jalan terlihat gelap gulita. Meskipun tidak rawan terhadap tindak kriminalitas, kondisi ini cukup mengancam keselamatan pengguna jalan. Selain keluhan terhadap penerangan yang minim bahkan nyaris tidak ada, desa Ambunten Barat ini juga menyarankan penduduknya menghemat penggunaan air. Keminimalan kesedian sumber air memaksa penduduk untuk membagi antara kebutuhan masak, mandi, peternakan dan juga kebutuhan untuk pertanian. Bahkan, air isi ulang galon pun sulit ditemui di Desa ini dan dipatok dengan harga yang cukup mahal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKN 94 UTM, “Mengaji Bareng” anak-anak di Ambunten Barat